Kartini Harum Bangsa, Kartini Tauladan, dan Kartini Urban

Oleh: M. Widad Bayuadi

_______________________

Berikut merupakan tiga kartini pilihan dalam bidang Arsitektur yang menjadi pengharum dan tauladan bangsa.
1. Irma Hardjakusumah (41 tahun)

“Untuk bisa memahami dan peka terhadap berbagai nilai estetis dan karakter, seorang perancang memerlukan wawasan, pengalaman, dan jam terbang yang cukup,”
Irma adalah lulusan dari Fakultas Teknik jurusan Arsitektur Universitas Indonesia. Ia melanjutkan studi di Art Center College of Pasadena, juga jurusan Environmental Design Program, University of California di Los Angeles (UCLA).
Irma di percaya untuk mendesain ruang after-party Governor’s Ball Oscar 2016. Brand dunia sekelas Salvatore Ferragamo, Swarovski, Dior dan Burberry juga pernah menyewa jasa desain Irma.
Selain itu, Irma juga banyak menggarap proyek ‘mentereng’ sekelas Emmy Awards, Costume Desaigners Guild Awards (CDGA), acara internal New York Times.

Kesuksesan karirnya dibidang arsitektur diakui Irma sebagai salah satu wujud sukses wanita yang di pelopori oleh Ibu Kartini pahlawan bangsa.

2. Sri Suryani

“Inilah cara saya membayar pada negara, yaitu dengan memilih bekerja untuk masyarakat. Menemukan banyak teman, bertemu dengan masyarakat dan belajar untuk merumuskan cara bagaimana membuat kota menjadi kokoh, menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat marjinal.”

Menjadi arsitek bagi warga minoritas Jakarta.

Sri adalah arsitek muda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kemudian memutuskan untuk belajar Urban Design and Development di London, Inggris tahun 2015 lalu setelah mendapatkan beasiswa.

Dalam usianya yang relatif muda, Sri menjadi arsitek di Ciliwung Merdeka, organisasi yang mempunyai keberpihakan pada masyarakat yang tinggal di pinggiran kali Ciliwung dan masyarakat pinggiran Jakarta. 4 tahun ini ia ikut melakukan advokasi pada masyarakat dan para korban penggusuran di Jakarta.

Setelah memutuskan kuliah di London di tahun 2015, Sri melihat konteks arsitek dari kacamata yang lebih besar. Dari sana saya melihat arsitek sangat berperan dalam pembangunan kota.

Ciliwung Merdeka adalah organisasi yang mempertemukan Sri dengan banyak kebutuhan real warga, dengan persoalan-persoalan yang dialami sehari-hari.
Dengan begitu Sri dapat mengarah kemana solusi yang akan dia arahkan.

3. Daliana Suryawinata (36 tahun)

“Bila ada orang yang mengkritik atau melakukan diskriminasi pada arsitek wanita, itu jumlahnya hanya segelintir. Seorang arsitek dituntut memiliki jiwa dan raga yang kuat, jadi kritik dan hal-hal tentang diskriminasi bukanlah masalah besar. Miliki pendirian yang kuat, punya rasa tanggung jawab tinggi, dan berdedikasi. Itu yang penting untuk bisa survive di bidang arsitektur,”.

Daliana Suryawinata (lahir di Jakarta,12 Agustus 1980) adalah seorang arsitek kebanggan Indonesia. Ia juga salah satu co-founder Suryawinata-Heinzelmann Architecture and Urbanism (SHAU), biro arsitektur yang berbasis di Rotterdame, Belanda dan Munich, Jerman.
Lulus S1 di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Daliana bekerja di 1 tahun di Indonesia. Selama 23 tahun hidup di ibu kota, Daliana merasa tersiksa oleh masalah kemacetan jalanan, polusi, dan banjir. Karena merasa pesimis arsitektur ngga bakal punya konstribusi untuk kota, maka Daliana memutuskan untuk keluar negeri melanjutkan studi S2 di Berlage Insititue, Belanda.

Setelah menyelesaikan S-2, Daliana bekerja di beberapa kantor ternama di Belanda, seperti Office for Metropolitan Authorities (OMA), MVRDV, dan USH.

Berada di Belanda selama 11 tahun membuat Daliana semakin tersadar kalau arsitektur tak hanya sekadar merancang bangunan saja, tapi harus bisa terintegrasi dengan kehidupan masyarakat setempat. Semua orang, tua-muda, kaya-miskin, punya kesempatan yang sama untuk menikmati karya seni arsitektur yang indah.

Salah satu konsep arsitektur urban yang kelak menjadi hasil karya Daliana dan team adalah Kampung Vertikal di Muara Angke, yang juga diinisiasi Joko Widodo semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Mega proyek berikutnya adalah Superkampung 2045 di Jakarta, yaitu konsep memajukan kampung di Jakarta sesuai dengan karakteristik dari kampung itu sendiri.

Sepak terjang Daliana sebagai diaspora yang berkontribusi untuk pembangunan di Indonesia membuat dirinya menerima The Indonesian Diaspora Award for Innovation 2012 dan Archinesia Award for Architecture Exhibitions 2012.

 

Leave a Reply