Kebangkitan Nasional

Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1908

Oleh: Muhammad Widad B.

 

Politik kolonial Belanda tidak menghendaki rakyat Indonesia menjadi cerdas karena hal itu akan membahayakan kedudukan Belanda. Cita-cita Dr.Wahidin untuk menghimpun tokoh-tokoh pergerakan nasional diwujudkan oleh Dr.Sutomo dan kawan-kawan dengan membentuk Boedi Oetomo.

Eduard Douwes Dekker, better known by his pen name Multatuli, was a Dutch writer famous for his satirical novel Max Havelaar, which denounced the abuses of colonialism in the Dutch East Indies.

– Multatuli

Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

NB :
MULTATULI sebenarnya adalah nama seseorang, yaitu Eduward Douwes Dekker. Ia adalah seorang pejuang belanda yang mendukung kemerdekaan indonesia. Meskipun ia adalah kebangsaan belanda tetapi ia memprihatinkan rakyat indonesia dalah tanam paksa atau biasa disebut Cultuurstelsel, hingga Eduward Douwes Dekker mengeluarkan buku MAX HAVELAAR agar semua orang tau betapa tersiksanya rakyat indonesia.

Boedi Oetomo

– Boedi Oetomo

Tanggal 20 Mei 1908, berdirinya Boedi Oetomo, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Boedi Oetomo didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Boedi Oetomo digagas Dr. Wahidin Sudirohusodo. Pada awalnya Boedi Oetomo bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan bukan bersifat politik. Boedi Oetomo menjadi awal gerakan yang bertujuan Memerdekaan Indonesia.

– “Als ik eens Nederlander was”

Suwardi Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya aku seorang Belanda”), pada tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi karena “boleh memilih”, keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan.

– Museum Kebangkitan Nasional

Museum Kebangkitan Nasional adalah sebuah museum yang memamerkan berbagai koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan sejarah kebangkitan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaannya. Museum ini menempati gedung tua bekas sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda untuk orang-orang bumiputra bernama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten).
Di gedung inilah bibit-bibit nasionalisme dan kebangkitan bangsa Indonesia mulai bersemai, tumbuh dan menyebar. Pada tanggal 20 Mei 1908, di gedung ini telah lahir organisasi pergerakan nasional Budi Utomo yang dipelopori oleh beberapa mahasiswa STOVIA, antara lain dr.Sutomo, dr.Ciptomangunkusumo, dr.Wahidin Sudirohusodo dan dr.Setiabudi (Douwes Dekker). Kemunculan organisasi ini, dalam catatan sejarah, dianggap sebagai tonggak penting dalam proses terbentuknya kesadaran nasional untuk melawan penjajah Belanda.
Tanggal lahir organisasi Budi Utomo kemudian ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai hari Kebangkitan Nasional.
Setalah beberapa lama, gedung ini diresmikan oleh Presiden Soeharto menjadi Gedung Kebangkitan Nasional dan pada tanggal 27 September 1982 pengelolaannya dialihkan dari Pemerintah DKI Jakarta kepada Pemerintah Indonesia. Dengan kewenangan ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Mendikbud No. 030/0/1984 akhirnya menetapkan penyelanggaraan sebuah museum di dalan Gedung Kebangkitan Nasional dengan nama Museum Kebangkita Nasional.
– ”Pemerataan Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan sebagai Wujud Kebangkitan Nasional”

Tema yang diusung pada penyelenggaraan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun 2017 adalah “Pemerataan Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan sebagai Wujud Kebangkitan Nasional”.

Melaui tema ini, diharapkan agar pemaknaan Kebangkitan Nasional dapat fokus terhadap perwujudan pemerataan pembangunan menuju Indonesia yang berkeadilan, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.
Dengan adanya pemerataan pembangunan di Indonesia, kita sebagai pemuda penerus bangsa harus bersikap ”bangkit!” dan ”bangun!” dengan semangat yang lebih baik di tahun 2017 ini. Bangkitlah generasi penerus bangsa, agar kelak kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara tidak semakin terpuruk, hilangnya moral bangsa, kebodohan, kemiskinan, dan banyaknya pengangguran.
Semangatlah dalam menjalani kehidupan dengan jiwa pemuda agar kelak kita dapat membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berjaya!

Selamat hari Kebangkitan Nasional Ke-109 Tahun 2017 !
Sumber:

– http://id.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_Nasional_Indonesia
– www.infoblora.com/2017/05/hardiknas-2017-dorong-pemerataan.html
– http://www.iftfishing.com/city/featured/wisata/sejarah/museum-kebangkitan-nasional
– SK-HARKITNAS-

Leave a Reply